Bukti Peradaban Kuno Amazon Terungkap

Sebagai akibat dari penebangan hutan di lembah Amazon,  sebuah penemuan awal telah dibuat. Lama tersembunyi dari penglihatan selama berabad-abad, sisa-sisa barang-barang purbakala tak dikenal yang jumlahnya banyak,  kini peradaban kuno telah ditemukan.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Antiquity, sebuah jurnal arkeologi Inggris, merinci bagaimana pencitraan oleh satelit digunakan untuk melihat jejak bangunan-bangunan  dan jalan-jalan dari suatu pemukiman, berlokasi dalam apa yang dikenal sekarang dengan Brazil dan dipercaya meliputi kawasan dengan jarak lebih dari 150 mil.

Jejak Arsitektur Sebuah Jaringan Pedesaan Amazon/Antiquity

“Kombinasi antara pembersihan lahan hutan hujan tempat penggembalaan dengan  survei satelit telah mengungkapkan sebuah bangunan monumen masyarakat pra Columbia yang canggih di bagian atas lembah Amazon pada sisi sebelah timur pengunungan Andes. Orang-orang yang tidak dikenal hingga saat ini membangun fondasi pemukiman dengan rencana geometris akurat yang dihubungkan dengan jalan-jalan ortogonal lurus,” demikian tulis peneliti dalam jurnal itu.

David Grann, pengarang buku “The Lost City of Z,” menunjukkan bahwa keberadaan dari puing-puing telah mengubah keyakinan terdahulu bahwa lembah Amazon bagian ini telah selamanya menjadi hutan belantara perawan, meskipun lagenda-lagenda tentang kota Amazon yang hilang masih tetap hidup pada saat orang Spanyol tiba di benua itu.

“Meskipun para pendatang awal telah mendengar dari suku Indian setempat tentang peradaban kaya orang Amazon yang menakjubkan, yang mereka namakan El Dorado, pencarian untuk itu selalu berakhir dengan malapetaka tanpa kecuali,” Grann menulis pada The New Yorker’s Web site. “Ribuan orang telah dibinasakan oleh penyakit dan kelaparan. Dan setelah sejumlah angka kematian dan kerugian materi diderita oleh Joseph Conrad,  kebanyakan ilmuwan menyimpulkan bahwa El Dorado tidak lebih dari sebuah ilusi.”

Puing-puing Peradaban Kuno di Lembah Amazon/Antiquity

Menurut Martti Parssinen, Denise Schaan dan Alceu Ranzi, para penulis  dari studi itu, komunitas itu sepertinya mempunyai populasi lebih dari 60.000 orang. Para peneliti mengatakan mereka hanya dapat mengungkap sekitar 10 persen dari struktur yang ada, yang mana waktunya kira-kira pada 800.

Sebagaimana Grann mengungkapkan dalam bukunya, seorang petualang Inggris Percy Harrison Fawcet menyatakan bahwa dia telah menemukan bukti dari peradaban kuno, yang dia sebut the City of Z, dalam area yang sama. Dia sendiri lenyap dalam hutan belantara dalam ekspedisi pada 1925 yang dilakukan bersama putera dan rekan-rekannya.

Manakala berbagai penemuan barang tembikar dan fondasi jalan terpencil terungkap puluhan tahun lalu, pembersihan pasca penebangan hutan Amazone menunjukkan dengan jelas kawasan yang merupakan kedudukan tempat bersejarah itu.

.per

Sumber: SPHERE

Petaka di Tengah Kemacetan

Hari ini Minggu, 27 Desember 2009 pada siang hari di rumah. Cuaca di luar agak mendung. Telah 10 hari aku menikmati liburan Natal dan cukup puas berkumpul bersama keluarga. Libur Natal maupun Tahun Baru kali ini tidak kemana-mana, hanya sekitar Jabodetabek.  Biasanya mudik sekeluarga—pulang kampung ke Sumatera Utara. Mengunjungi orangtua di Sarimatondang sambil menikmati indahnya kampung halaman.

Kebetulan Ibu—kini tinggal sendiri setelah Bapak meninggal dunia pada 2006—barusan datang  Nopember lalu ke Jakarta untuk menghadiri acara wisuda cucunya Maria. Beliau memang selalu hadir pada acara serupa, juga terhadap cucu-cucu yang lain. Tapi kali ini tidak bisa berlama-lama disini. Harus segera pulang untuk keperluan mendesak. Cuma  seminggu di Jakarta, namun cukup untuk melepas kerinduan  setelah lama tidak bertemu.

Kini suasana santai selama menikmati hari libur sudah berakhir. Sore  ini aku musti kembali  ke Surabaya sebab  cuti telah habis. Kurencanakan berangkat pukul 18.00 dengan kereta api (KA). Mudah-mudahan masih dapat tiket.  Sebenarnya nekad juga tidak menyiapkan tiket  jauh hari sebelumnya. Biasanya  beli  tiket pas waktu keberangkatan pada hari-hari libur amat berisiko. Pada hari biasa saja bisa kehabisan tiket, apalagi hari libur!

Aku hanya  bisa berspekulasi dan tergantung pada nasib baik saja. Toh suasana libur Natal tidak seramai ketika suasana Lebaran. Logikanya, harapan mestinya masih ada. Bagaimana pula bila  tempat duduk sudah habis? Ambil saja tiket tanpa tempat duduk, lalu siap-siap duduk di restorasi. Bagi saya, ini bukan masalah serius. Telah terbiasa mengalami  hal seperti ini selama hampir 4 tahun bertugas di Surabaya.

Ketika akan berangkat, hujan turun lebat. Padahal Ari  dari tadi sudah siap  mau mengantar ke depan. Syukur, hujan tidak lama. Setelah menunggu sesaat kini hanya tinggal gerimis. Kamipun segera berangkat. Ketika itu jam menunjukkan pukul 15.30. Masih cukup banyak waktu hingga tiba di stasiun Gambir. Tiba di jalan raya, Ari  segera kembali ke rumah. Aku  sendiri  menunggu angkutan umum jurusan UKI di Cawang.

Cukup lama aku berdiri disana, tetapi kenderaan yang ditunggu belum datang juga. Kalaupun ada selalu penuh, lalu lewat begitu saja. Aku mulai gelisah. Tiba-tiba sebuah taxi berhenti persis di depan saya  Sopirnya menawarkan agar saya naik. Saya sempat bimbang sejenak, mau naik taxi saja atau menunggu lebih lama lagi? Gerimis belum berhenti sedang tas bawaan terasa makin berat. Lalu, tanpa pikir panjang lagi aku segera naik.

Suasana jalan raya hingga Plaza Cibubur tampak agak lengang. Bisanya ada kemacetan disini. Aku sempat mau bilang sopir, agar keluar dari pintu tol Cimanggis saja. Namun kubatalkan, setelah melihat situasi jalan tidak begitu ramai. Tetapi,  apa yang  terlihat  di depan sana? Tepat pada jalan menurun, antrian kenderaan ternyata sudah panjang. Hanya bisa bergerak perlahan, kadang berhenti sama sekali. Sesaat kemudian, kamipun ikut terperangkap di dalamnya.

Kini mulai timbul sedikit penyesalan. Tadi, kenapa  tidak lewat Cimanggis saja? Mau putar balik agaknya sudah terlambat, karena putaran di persimpangan Kranggan sudah pasti ditutup. Tidak bisa belok ke kanan arah ke Cimanggis. Kalau mau putar balik, harus turun lebih jauh lagi ke bawah  hingga putaran depan Cibubur Times Square. Tampaknya pilihan inipun tidak membantu karena arus kenderaan disanapun  sudah pasti tersendat.

Aku hanya bisa pasrah dan mulai pesimis KA pukul 18.00 masih bisa terkejar. Perjalanan masih panjang sedang lalu lintas hanya bisa merayap seperti siput.  Celakanya, sopir tampak  mulai mengantuk! Kelihatan dia mulai dihinggapi rasa bosan dan letih. Ketika mobil di depan sudah jalan, dia masih berhenti. Agaknya terlelap. Begitu suara klakson terdengar bertalu-talu  dari belakang, baru dia jalan. Peristiwa ini sempat terulang sampai 3 kali.

Perasaan saya mulai panik, resah, dan jadi serba salah. Waktu terus berjalan,  sementara  arus kenderaan tampak seperti jalan di tempat. Aku mulai uring-uringan.  Melihat  jarum jam terus berputar dan waktu kini semakin kritis. Juga melihat kondisi sopir yang mengantuk. Sialnya argometer jalan terus meskipun mobil berhenti. Mobil baru berjalan sekitar 2 km tetapi argometer sudah menunjukkan angka diatas dua puluh ribuan.

Tengah saya melamun, tiba-tiba “Bukk!” terdengar bunyi tumbukan keras. Aku sempat terguncang di jok belakang. Ternyata mobil yang kutumpangi telah menabrak mobil di depan. Kuperhatikan, pintu belakang mobil yang tertabrak penyok cukup parah. Begitu terjadi tabrakan, rasa kantuk sang sopir kelihatan mendadak hilang. Dia kaget bukan main. Tapi, mau bagaimana lagi? Segalanya telah terjadi, tak guna disesali!

Tak lama kemudian, pengemudi mobil korban turun. Sejurus dia memperhatikan bekas-bekas  tumbukan, lalu mendatangi sopir taxi. Sang sopir yang lagi bengong hanya bisa memberi isyarat, agar menepi saja dulu. Takut kalau membuat kemacetan semakin parah. Peristiwa itu terjadi di bagian tengah jalur jalan sehingga untuk menepi sajapun terasa amat sulit. Tambahan lagi mobil  yang menepi bukan cuma 1, tetapi 2 sekaligus.

Tiba di pinggir jalan, sopir turun lalu mereka mulai terlibat dialog. Aku memilih diam saja dalam mobil, tidak mau mencampuri. Cukup lama mereka saling adu argumentasi. Tapi, sopir taxi tampak banyak mengalah. Rupanya sadar, bahwa dia yang salah. Korban menuntut agar ganti rugi dibayar saat itu juga. Tetapi sopir taxi bilang tidak punya uang. Dia memberi alasan baru saja turun. Sambil menunjuk ke arah saya, dia bilang aku penumpang pertama sore itu.

Eh, nanti dulu! Taxi sudah menepi tapi argometer koq masih jalan? Bah, tak benar lagi ini! Kuputuskan untuk keluar mau mencari kenderaan lain. Rupanya sopir taxi telah datang lebih dahulu dan minta agar aku pindah  kenderaan saja. Rupanya mereka hendak ke pool bersama korban karena solusi menemui jalan buntu. Korban bersikeras urusan selesai sore ini juga. Dia takut dipersulit, apabila datang sendiri ke pool sesuai permintan sopir taxi.

Lalu aku keluar setelah membayar tarip argometer Rp 25.000. Harga yang terlalu mahal untuk sebuah jarak tempuh yang tidak setara. Sopir menawarkan untuk  mencarikan taxi pengganti, tapi kutolak. Lebih baik aku naik angkot saja, karena  pintu tol sudah dekat. Nanti di depan BJ Junction aku bisa turun, lalu mengambil kenderaan lain jurusan Cawang. Yang paling utama, aku bisa terlepas dulu dari  kemacetan ini.

Menjelang masuk tol Jagorawi, aku ganti kenderaan. Ketika itu jam sudah menunjukkan pukul 17.00 tepat. Situasi di jalan tol lancar meskipun kenderaan agak ramai. Tidak sampai terjadi kemacetan yang menyebabkan kenderaan harus berhenti. Tidak berapa lama kemudian, kenderaan tiba di Cawang. Lalu saya turun dekat jembatan penyeberangan persis di depan UKI. Kini waktu hanya tersisa 35 menit menuju pukul 18.00.

Begitu turun aku  langsung berhitung. Dengan sisa waktu 35 menit, pasti tak terkejar bila naik Busway. Begitu pula dengan taxi. Sarana paling cepat agaknya hanya ojek. Seorang pengojek kutanya apakah bisa sampai di Gambir dalam waktu 15 menit. Ternyata dia jawab bisa. Setelah sepakat soal  harga, kamipun berangkat. Dari Cawang langsung melaju arah Otista terus lurus ke Kramat.  Di Senen naik jalan layang lalu belok dari samping Atrium terus ke Pejambon.

Dan benar, pukul 17.40 kami telah tiba di stasiun Gambir. Terus terang, tadi sempat juga merasa deg-degan selama dalam perjalanan. Kuatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Selesai membayar ojek sambil mengucapkan terima kasih, aku buru-buru ke loket. Kebetulan tidak ada antrian pembeli disana. Puji Tuhan, tiket KA tujuan Surabaya untuk keberangkatan jam 18.00 ternyata masih ada. Begitu dapat tiket, aku langsung naik ke ruang tunggu.

Tepat pukul 18.00 KA berangkat. Kini lega sudah, beban yang terasa menghimpit telah sirna. Masih terbayang jelas saat-saat dilanda rasa panik ketika terperangkap dalam kemacetan. Dan sopir taxi yang malang, masih nekad menyetir kendati sudah mengantuk berat. Mestinya  terus terang saja bilang sudah mengantuk, butuh istirahat. Tak terbayangkan, jika peristiwa tadi terjadi saat melintas di jalan tol. Atau, boleh jadi ada semacam blessing in disguise atau rahmat tersembunyi di balik peristiwa ini? Hanya Tuhan yang tahu.

.

Surabaya, 4 Januari 2010 – Oleh Farel M. Sinaga

Selingan Manis Dalam Penantian

29 Desember 2009 Farel M Sinaga 2 komentar

Pada Minggu pagi, 20 Desember 2009 pergi ke gereja bersama keluarga. Habis kebaktian, Kris dan Mia bergabung dengan pemuda lain. Mereka membahas  persiapan dalam rangka pelaksanaan Natal yang akan berlangsung Sabtu, 26 Desember 2009. Setelah itu kami langsung balik  ke rumah. Rencana sore ini hendak pergi ke Kelapa Gading di Jakarta Utara. Anak-anak minta ditemani  untuk belanja keperluan Natal. Agaknya barang yang mereka butuhkan tidak ditemukan di Cibubur maupun Depok, jadi harus jauh-jauh mencari kesana. Tapi bisa dimaklumi, mereka memang sudah familiar dengan kawasan itu.

Yah, musti bagaimana lagi? Mau tidak mau harus pergi. Kebetulan minggu ini aku sedang menjalani cuti. Kini cukup banyak waktu untuk berkumpul maupun bepergian dengan keluarga. Lain kalau pada hari-hari biasa ketika tidak cuti. Sepulang dari  gereja sudah harus langsung berkemas-kemas. Kalau tidak bakal ketinggalan kereta api yang akan berangkat sore ke Surabaya. Kebiasaan ini sudah rutin saya jalani selama 4 tahun bertugas disana. Oleh sebab itu, mumpung ada waktu senggang, harus betul-betul dimanfaatkan.

Tiba di rumah, kami segera makan siang. Habis itu istirahat sebentar. Anak-anak menyempatkan diri buka internet untuk melihat-lihat status di Facebook. Saat itu yang kuperlukan cuma satu hal, tidur lebih kurang 1 jam. Tadi malam susah tidur karena kepala terasa pusing. Aku kuatir, kalau tak tidur bisa mengantuk saat menyetir, terutama di jalan tol. Tepat pukul 14.15 kami berangkat dari rumah. Niel—anak paling tua— tadi pagi kebaktian di Cempaka Putih. Dia telah dihubungi, dan janji akan datang menyusul ke Kelapa Gading.

Ketika hendak berangkat, Kris bilang nanti sore pukul 16 akan ada latihan pemuda di gereja. Dia minta, kalau bisa sebelum pukul 16 sudah tiba di Cibubur. Aku sih oke-oke saja. Tetapi, apakah mungkin? Mustahil belanja bisa selesai dalam 1 jam, lokasinya di Jakarta Utara lagi. Menurut pengalaman sebelumnya, begitu tiba di Mal waktu akan terlupakan dalam seketika. Belum pernah kejadian, begitu barang telah  ditemukan langsung jadi. Biasanya harus putar sini putar sana dulu, baru bisa mengambil keputusan.

Yah, mudah-mudahan saja cepat selesai sesuai harapan. Bagi saya sendiri, cepat atau lambat tidak menjadi masalah. Yang penting mereka bisa mendapatkan apa yang mereka cari. Coba kalau tidak ketemu, berarti harus siap-siap untuk mencari ke Mal lain. Keputusan kali ini kuserahkan sepenuhnya pada anak-anak. Peran kami orangtua hanya sebatas menemani. Boleh jadi kasih saran, itupun kalau diminta. Tetapi yang pasti, sejumlah dana untuk keperluan belanja  mutlak sudah harus disiapkan sebelumnya.

Menuju tol Jagorawi, kami lewat pintu tol Cimanggis. Jalur ini sengaja kupilih menghindari kemacetan di Jalan Trans Yogi Cibubur. Situasi sepanjang jalan lancar kendati ada lubang di beberapa tempat sehingga kenderaan harus melambat. Namun tidak sampai terjadi kemacetan karena kenderaan yang melintas tidak begitu ramai. Perkiraan saya lewat Cimanggis ternyata tepat. Dari jalan tol terlihat jelas antrian kenderaan merayap dengan perlahan di  jalan layang menuju pintu tol masuk Jagorawi.

Dari jalan tol Jagorawi kami keluar di Cawang, lalu melaju lewat jalan By-Pass. Begitu tiba di Kelapa Gading, kami langsung ke pusat perbelanjaan. Suasana sekitar Mal cukup ramai sedang halaman parkir sudah terisi penuh. Kami mulai mencari tempat di dalam. Ternyata lantai dasar sudah terisi penuh. Lantai selanjutnya  kami telusuri, juga penuh. Bahkan jalan antara ruang parkirpun sudah berisi  mobil. Wah, gawat ini! Kalau begini bisa-bisa harus turun lagi, lalu mulai mencari lagi dari awal. Pekerjaan ini tampaknya sepele, tetapi cukup berat. Kini tinggal satu lantai lagi. Seandainya penuh juga apa boleh buat, siap-siap untuk turun.

Ternyata kami telah tiba di atap gedung. Kawasan ini merupakan  ruang terbuka tanpa atap yang dijadikan tempat parkir. Rupanya tempat disinipun sudah dipenuhi oleh kenderaan. Tetapi mujur, sebuah mobil sedan tampak  mau keluar. Begitu dia keluar, kami langsung menggantikan tempatnya. Di belakang kami ternyata masih ada beberapa kenderaan yang antri mencari tempat parkir. Sudah bisa diduga mereka harus turun lagi, kecuali bernasib baik mendapatkan tempat kosong disini.

Tiba di dalam Mal, aku segera memisahkan diri. Isteri dan anak-anak kuminta agar langsung mendatangi gerai yang hendak dituju. Aku sendiri akan menunggu di Gramedia karena tidak kuat kalau harus ikut jalan berkeliling bersama mereka. Berdiri terlalu lama akan membuat saya merana karena pinggang akan terasa sakit. Lebih baik aku berkeliling saja melihat-lihat buku sambil santai. Bila sudah kepayahan sementara tempat duduk tidak ada, aku bisa jongkok sambil membaca buku.

Telah  1 jam lebih  aku berkeliling di Gramedia. Sebagian besar rak buku telah saya kunjungi terutama mengenai pajak, akuntansi, komputer, dan blogging. Namun kali ini saya bermaksud untuk melihat-lihat saja, tidak ada niat untuk membeli. Beberapa buku yang kubeli  jauh hari sebelumnyapun belum sempat terbaca. Masih terbungkus rapi dalam sampul plastik. Kebiasaan saya memang begitu. Buku yang baru dibeli sementara disimpan dulu. Begitu ada waktu senggang, baru dibaca sampai habis.

Ketika sedang asyik melihat-lihat isi etalase, tiba-tiba Ari—putra bungsu—sudah berada di sampingku. Kutanya apakah barang yang dia cari sudah dapat, ternyata dijawab belum. Lho, ngapain terus datang kesini kalau belum dapat? Dia bilang sudah capek mencari kesana kemari tetapi tidak ada yang cocok.  Masa di Mal segini luas tak ada satupun yang cocok? Lalu kuminta dia agar berusaha mencari  lagi di tempat lain. Saat senggang untuk belanja seperti ini amat terbatas, jadi harus digunakan mumpung ada kesempatan.

Setelah puas berkeliling sambil melihat-lihat, aku membeli sebuah buku catatan saku lalu keluar dari Gramedia. Selanjutnya waktu kuisi  dengan berjalan berkeliling. Cuci mata  melihat-lihat barang di gerai maupun tingkah polah para pengunjung. Situasi di dalam Mal tampak semakin ramai. Orang pada sibuk berlalu-lalang kesana kemari. Namun sialan, pinggang saya secara perlahan terasa mulai sakit karena kebanyakan jalan dan berdiri. Mata mulai jelalatan mencari-cari cafe agar bisa duduk istirahat sambil menikmati segelas kopi.

Tepat ketika aku melintas saat mencari-cari cafe,  seorang bocah laki-laki tampak sedang bernyanyi. Dia membawakan lagu-lagu rock Indonesia masa kini. Penampilannya amat memukau dengan gaya dan suara layaknya seorang rocker sejati. Yang mengagumkan,  semua lagu betul-betul dia kuasai dan dinyanyikan luar kepala. Ada tiga buah lagu yang dia nyanyikan sejak saya tiba disana.  Dia bernyanyi diiringi oleh musik pengiring yang telah terekam dalam sebuah laptop. Banyak pengunjung yang berhenti untuk menonton  karena merasa tertarik dengan penampilan anak ini.

Ternyata anak ini hanya seorang tamu dadakan di Charlie Eagles—sebuah grup musik asal Amerika. Selesai bernyanyi, dia langsung pamit setelah disalami oleh Charlie—pimpinan kelompok. Grup ini menempati sedikit ruang di lantai Mal untuk peragaan dan penjualan CD rekaman. Seperangkat alat musik tampak terpasang disana. Yang menarik adalah Zamponas, alat musik  tradisional Indian. Terbuat dari bambu mirip  angklung, tetapi ditiup. Sebuah topi kebesaran kepala suku Indian tampak tergantung anggun pada tangkai pengeras suara. Setiap kru mengenakan pengikat kepala, rompi, dan atribut khas Indian lainnya. Seluruh atribut ini didominasi oleh warna coklat—warna khas Indian.

Zamponas / Gonzalo Cortes

Tidak jauh dari sana kulihat ada sebuah bangku panjang terbuat dari kayu. Muat 8 orang, masing-masing 4 orang duduk saling membelakangi.  Agaknya khusus disediakan buat pengunjung yang butuh istirahat setelah penat berbelanja. Kebetulan ada tempat kosong sehingga saya langsung duduk. Kini aku bisa  istirahat sambil menikmati musik Charlie Eagles. Lagu-lagu instrumental  yang mereka bawakan terdengar syahdu dan sangat menyentuh. Tentu suasana ini tidak terlepas dari peran Charlie—seorang keturunan Indian Amerika yang meniup Zamponas dengan begitu sempurna dan penuh penghayatan.

Satu Zamponas hanya bisa membawakan satu nada dasar. Ketika hendak membawakan lagu dengan nada dasar lain, tampak Charlie menggunakan  Zamponas yang lain. Disamping Zamponas, alat musik lain yang ada hanya gitar.  Maka ketika membawakan sebuah lagu, hanya ada dua orang yang tampil. Bunyi  instrumen musik lainnya sudah terekam dalam laptop. Anggota kelompok selebihnya adalah dua orang wanita yang  bertugas untuk administrasi dan menjajakan barang dagangan. Kedua wanita ini memakai sepatu bot yang tingginya sampai sebatas lutut.  Warna pakaian yang mereka kenakan juga bernuansa kecoklatan.

Cukup lama aku duduk sambil menikmati permainan mereka. Kemudian Kris  saya hubungi lewat HP, apakah sudah selesai belanja atau belum. Ternyata belum. Dia bilang Niel baru saja tiba dan kini mereka sedang sibuk membantu mencari barang yang dia perlukan.  Bersamaan ketika kelompok musik ini beristirahat, sayapun mulai keliling lagi. Rasa sakit di pinggang sudah tidak terasa lagi. Malah kini pantat yang sakit karena kebanyakan duduk. Oalah, berdiri lama salah, duduk lama juga salah!

Niat untuk minum kopi akhirnya saya batalkan. Lebih baik menunggu anak-anak selesai belanja, lalu makan Pempek Palembang bersama-sama. Tak sengaja aku melihat penjual Pempek ketika mencari-cari ATM Mandiri di lantai dasar. Keinginan untuk makan Pempek selalu timbul setelah terbiasa makan makanan ini selama 3 tahun lebih  bertugas di Bengkulu. Tempat makan Pempek yang menjadi favourit  saya ketika itu adalah di  Jalan Todak  samping  Gereja Katolik sambil menunggu anak-anak pulang dari sekolah.

Ingat Pempek, tak terasa air liurpun mulai mengalir. Kuhubungi Kris lagi, ternyata belum selesai juga. Dia bilang sebentar lagi. Saya pesankan, bila selesai nanti agar kumpul semua di depan Gramedia. Lalu aku balik lagi ke Charlie Eagles, ternyata mereka sudah main lagi. Aku hanya menonton dari kejauhan sambil berdiri menyandarkan kedua tangan ke pagar pembatas balkon. Kali ini mereka bermain cukup lama. Lagu demi lagu instrumental mengalir seiring dengan tiupan Zamponas oleh Charlie yang mendayu-dayu.

Tiba-tiba HP saya berbunyi. Ternyata dari Kris. Dia memberi tahu, kini mereka ada di depan Gramedia. Aku  segera menyusul kesana. Saat mau tiba disana  baru terpikir untuk membeli sebuah CD rekaman Charlie Eagles. Tapi saya urungkan karena hari sudah mulai malam. Kapan-kapan bisa dicari di toko-toko musik, kemungkinan besar ada dijual disana. Tiba di Gramedia ternyata sudah lengkap menunggu. Mereka segera kuajak makan Pempek  di lantai dasar. Oh, kelihatan mereka senang sekali. Barangkali  masing-masing sudah lapar karena belum makan padahal sudah lewat waktu makan malam.

Tiba disana kami langsung pesan makanan. Namun harus menunggu  sebentar karena meja-meja masih terisi. Setelah ada meja kosong, kamipun duduk. Tak lama pesananpun datang, lalu kami mulai makan. Pempeknya terasa lezat, tidak berbeda jauh dengan aslinya dari Palembang. Dalam tempo singkat makanan telah ludes tak bersisa. Mata dan mulut Ari sampai memerah  karena kepedasan. Sengaja kami pesan secukupnya agar tidak ada yang terbuang percuma. Kalau masih ada yang merasa kurang, bisa minta tambah lagi. Ternyata semua telah kenyang, dan kini adalah saatnya untuk pulang.

Empat Bersaudara Habis Makan Pempek

Ketika mau pulang jam telah menunjukkan pukul 21.15. Berarti kami telah berada disana selama 5 jam lebih. Sebuah penantian panjang yang butuh kesabaran ekstra. Untung ada selingan pengisi waktu sehingga waktu berlalu tanpa terasa. Disamping melihat-lihat buku di Gramedia,  terasa amat berkesan adalah suguhan musik manis dari Charlie Eagles. Tampil apa adanya, jauh dari hura-hura. Bila pengunjung mulai sepi, Charlie segera meniup Zamponas lalu orangpun berdatangan. Setiap selesai membawakan lagu, tak lupa dia menyapa pengunjung dengan ucapan:  “Terima Kasih dan Selamat Malam!”
.

Surabaya, 29 Desember 2009 – Oleh Farel M. Sinaga

Gita Damai di Puncak Bromo – Bagian 4

Setiap menaiki 10 anak tangga langsung berhenti. Lalu jari tangan saya lipat 1. Demikian kulakukan seterusnya. Tiap 10 anak tangga lantas berhenti lalu melipat jari lagi satu.  Tepat pada anak tangga ke-40 seorang anak gadis tampak berdiri. Dia lagi istirahat sambil bersandar pada tiang tangga. Napasnya tersengal-sengal kelelahan. Tiba disini, mau tak mau aku harus berhenti.  Kalau tidak hasil perhitungan bisa buyar. Terlihat jelas dia protes ketika saya memaksakan diri untuk berhenti.

Begitu saya berhenti sehingga harus berdiri berdesakan, lalu dia bilang:

“Aduh, Paaak! Koq berhenti disini, sempit sekali. Bapak tolong naik ke atas saja!” Maksudnya anak tangga ke-41. Langsung aku pasang aksi, seolah-olah tidak tahan lagi.

“Sorry!  Tidak tahan lagi, Dik. Habis tenaga, nanti malah bisa ambruk disini,” jawab saya pura-pura ngosngosan.

Kelihatan dia bisa terima lalu mengalah. Dia  lantas naik satu tingkat ke anak tangga 41. Dalam hati saya amat berterima kasih. Gadis ini  begitu baik sehingga hitungan  sejauh ini masih fokus. Pada anak tangga  100, seluruh jari tangan saya sudah terlipat. Lalu aku mendongak ke atas. Astaga, ternyata ini masih separuh jalan. Masih ada seratus lebih anak tangga lagi yang harus saya daki. Menyerah? Hoho, tidak! Tak ada istilah untuk menyerah. Lagi pula  puncak sudah di depan mata, dan pekerjaan ini akan segera berakhir.

Kini kesepuluh jari tangan sudah terlipat. Kalau ada orang memperhatikan kelakuan saya pasti merasa geli. Dua-dua tangan terkepal seolah mau main tinju. Tapi, bodo amat!      Sebenarnya saya mampu menapaki 20 anak tangga sekaligus tanpa istirahat. Cuma salah-salah perhitungan bisa buyar dan perjuangan sia-sia. Pada anak tangga 110 seluruh jari diluruskan kembali. Seratus besar kusimpan di otak. Lalu mulai melipat satu jari lagi dari awal. Tiba di anak tangga 200 ternyata jalan masih panjang. Berarti jari harus diluruskan untuk memulai hitungan 210. Kini 200 besar sudah tersimpan aman di otak. Wah, pekerjaan ini cukup asyik dan menantang!

Akhirnya saya lolos ke final pada hitungan 51. Berarti seluruh anak tangga ada 251 buah. Tentu bisa jadi bahan cerita dengan teman-teman setiba di Surabaya nanti. Atau, bahkan ke anak cucu. Siapa tahu kalau diberi usia panjang? Tiba di atas saya langsung terduduk. Capek baru terasa setelah tujuan tercapai. Tadi semangat begitu bergelora sehingga tak terpikir sama sekali bahwa pendakian ini merupakan suatu pekerjaan berat. Rasa ingin tahu melihat kawah kutahan dulu untuk menenangkan diri sambil menunggu tenaga pulih kembali.

Tak lama rasa letihpun hilang. Mataku mulai mencari posisi teman-teman di bawah sana. Ternyata mereka masih jauh dari tangga. Kini mereka bertiga sudah bergabung dan berjalan bersama. Lalu saya bangkit dan mendekat ke pagar pembatas untuk memandang ke kawah. Tampak asap putih tebal mengepul dari dalam. Lobang kawah sama sekali tidak kelihatan karena tertutup asap. Kucoba memandang dari posisi lain, hasilnya sama. Sudah itu aku mulai mengambil foto-foto. Kumulai dari kawah lalu pemandangan  Lautan Pasir dan Puncak Bromo di kejauhan. Udara saat itu sangat cerah sehingga foto yang dihasilkan cukup bagus.

Asap Putih Mengepul dari Kawah Tengger

Puas mengambil foto saya bersandar lagi pada pagar pembatas sambil memandang ke kawah. Kemudian saya mencari-cari ke bawah tangga, ingin tahu mereka sudah sampai dimana. Ternyata hanya Sudaryadi yang terlihat melangkah naik. Imam dan sopir sedang  berhenti tepat pada pertengahan tangga. Mereka berdua agaknya tidak bersemangat lagi untuk mencapai puncak. Sambil menunggu Sudaryadi, saya bangkit lalu memutar untuk melihat kawah dari sisi lain. Tetapi tidak ada ruang kosong untuk memandang. Sepanjang pagar pengaman dipadati oleh pengunjung yang memandang maupun foto-foto.

Tiba-tiba angin berembus kencang sambil berputar. Asap putih dalam kawah semula tenang lalu terangkat naik dan bertebaran mengenai orang disekitar itu. Mata saya terasa perih terkena asap dan napas sesak. Bau asap belerang itu amat menyengat. Sambil menutup mulut dan hidung aku berlari ke arah tangga. Pengunjung lain juga melakukan hal yang sama. Sudaryadi baru saja tiba ketika saya mau turun. Kuminta dia ikut turun segera karena situasi sekitar kawah cukup berbahaya. Lantas dia ikut turun tanpa sempat melihat kawah, walau sesaat.

Tangga Menuju Kawah Tengger

Sekitar 15 menit berlalu situasi tenang kembali. Rupanya anginnya tidak lama. Meskipun begitu orang-orang tetap saja turun. Sambil turun kami saling mengambil foto di tangga sebagai kenangan. Cukup memprihatinkan, perjuangan Imam dan sopir pada kesempatan berharga ini hanya separuh tangga. Mereka harus rela pulang tanpa menjejakkan kaki di puncak Tengger. Setiba di bawah para penunggang kuda sudah berebutan hendak menyongsong. Tanpa pikir panjang kuputuskan kali ini naik kuda saja. Badan sudah terlalu penat untuk dipaksa jalan kaki. Kupesan empat ekor kuda sambil menanyakan harga. Tawar menawarpun terjadi. Setelah tercapai kesepakatan, kamipun segera naik.

Ternyata naik kuda tidak segampang yang kukira. Sebelum berangkat pemilik kuda memang telah memberitahu cara maupun posisi duduk ketika jalan menurun. Mula-mula  terasa gamang dan sedikit takut. Kuatir ketika sedang menurun sedang di sisi jalan sebelah kiri terdapat lembah. Kalau terjatuh dari kuda saja mungkin tidak begitu berbahaya. Bagaimana kalau kuda tergelincir lalu ambruk ke lembah? Namun perasaan  ini hanya sesaat. Tak lama saya mulai terbiasa dan sedikit tenang. Barangkali pengalaman  menunggang kerbau semasa kecil di kampung halaman di Sarimatondang Kabupaten Simalungun turut membantu.

Setelah bisa mengendalikan diri, pemilik kuda kutanya:

“Mas, sehari bisa berapa kali bolak balik dari bawah ke atas?”

“Yah, kalau banyak pengunjung sampai enam kali bisa.”

“Enam kali? Tidak sedikitpun merasa capek? Kami baru sekali ini saja sudah ampun. Bahkan, ada yang tidak berhasil sampai ke puncak.”

“Sudah biasa, Pak. Sejak kecil sudah terbiasa jalan kesana. Tidak masalah.”

“Ada berapa ekor kuda sewaan disini?”

“Lebih kurang seratus.”

“Kudanya jenis apa?”

“Kuda Sumbawa.”

“Kuda-kuda ini asli dari Sumbawa atau sudah lahir disini?”

“Asli dari Sumbawa. Entah kenapa kuda yang lahir disini tidak kuat dipakai untuk bekerja. Padahal jenisnya sama.”

“Orang Tengger itu sebenarnya ada dimana?”

“Saya salah satunya. Seluruh penunggang kuda disini serta pengemudi mobil Hardtop adalah orang Tengger.”

“Berarti mereka semua termasuk Mas adalah penganut agama Hindu?”

“Ya, benar!”

Dalam hati saya memuji kelincahan dan kekuatan orang ini. Tapi, bila diperhatikan pemilik kuda lainpun memiliki kemampuan sama. Gerakan mereka cukup gesit dan lincah. Postur tubuh memang cocok dengan alam setempat. Tinggi badan umumnya sedang dan perawakan  langsing─bukan berarti kurus. Tak seorangpun kelihatan gemuk. Bisa jadi pengaruh alam yang keras menempa mereka jadi seperti itu. Bagi pendatang, berjalan tanpa membawa apapun harus istirahat sampai beberapa kali. Sebaliknya mereka kelihatan biasa saja. Tetap mantap ketika jalan kaki sambil menuntun kuda bahkan pada jalan mendaki sekalipun.

Foto di Laut Pasir dengan Latar Belakang Puncak Bromo

Lebih kurang setengah jam kemudian kami tiba di mobil. Setelah kumpul, kami berfoto  dengan latar belakang puncak Bromo. Selesai foto langsung menuju  mobil untuk kembali ke hotel. Kami harus gedor-gedor pintu mobil karena ternyata sang sopir lagi tidur nyenyak. Dia segera terbangun sambil minta maaf. Lalu kamipun berangkat. Dalam perjalanan kami ditanya, apakah masih ingin melihat tempat lain sekedar berfoto? Kuminta pendapat teman-teman. Ternyata mereka lebih suka langsung ke hotel saja.

Dalam perjalanan kami melewati rombongan penunggang kuda yang mau pulang. Berjalan beriringan laksana cowboy dalam film Western. Bedanya, mereka tidak pakai topi sombrero. Tampak dua orang penunggang memacu kudanya kencang-kencang di hamparan pasir yang luas. Asyik juga kalau lautan pasir ini dijadikan arena reli maupun ajang lomba pacuan kuda.

Menuju Mobil Mau Balik ke Hotel

Tak sampai satu jam kami sudah masuk perkampungan Ngadisari. Langit kelihatan mendung kehitaman tanda hujan akan turun. Tepat pukul 11.00 kami tiba di hotel. Sisa rekening sewa kenderaan berikut kamar hotel segera kami lunasi. Jam chek-out hotel adalah pukul 13.00, berarti masih ada waktu 2 jam untuk istirahat sambil kemas-kemas. Makan siang kami putuskan dalam perjalanan saja. Sisa roti yang dibeli tadi malam masih banyak tersisa. Cukup untuk menopang perut sebelum tiba waktu makan siang.

Pukul 12.30 kami mulai siap-siap. Seluruh barang-barang kami masukkan dalam mobil. Kami cek ulang sekali lagi memastikan tak ada yang terlewatkan. Setelah semua beres, kami masuk mobil. Belum sempat masuk hujan sudah turun. Memasuki jalan raya sampai keluar perkampungan hujan semakin lebat. Sepanjang jalan arah Probolinggo kabut mulai turun. Gunung sebelah kiri maupun kanan jalan tidak kelihatan sama sekali karena tertutup kabut tebal. Sayang sekali panorama indah pegunungan ini tidak bisa kami nikmati. Tiba di kota Probolinggo hujan baru reda. Bahkan kontras dengan apa yang kami alami barusan. Kini kami melaju di bawah terik matahari dan jalan sedikit berdebu.

Sebelum kota Pasuruan kami berhenti di depan sebuah restoran untuk makan siang. Mobil travel tumpangan Sudaryadi rupanya sering singgah disini sepulang dari Denpasar. Restoran itu cukup bagus dan bersih. Pelayanan cukup prima. Masakan juga lezat terutama tempe goreng yang dipotong agak besar. Ketika disuguhkan masih terasa panas. Harus menunggu sejenak sebelum bisa dilahap. Lupa nama restoran itu, tetapi agaknya cukup terkenal. Mobil yang singgah banyak pakai plat luar daerah Pasuruan. Ada dari Bali, Surabaya, Mojokerto, Semarang, bahkan dari Jakarta. Tetapi yang pasti meski sudah payah mencari-cari, plat BK asal daerah saya di Sumatera Timur tidak ada.

Habis makan kami melanjutkan perjalanan. Situasi dalam perjalanan lancar, tidak ada kendala. Masuk Gempol jalan mulai tersendat. Terdapat antrian kenderaan cukup panjang. Penyebab kemacetan bisa ditebak, pasti akibat tertahan di sekitar danau lumpur Porong Sidoarjo. Lambatnya arus kenderaan menyebabkan kebosanan dan rasa kantuk. Tambahan lagi baru makan siang, biasanya jam begini sudah tidur sebentar. Cuma kami tak berani tidur, takut sopir ikut mengantuk. Imam yang duduk di depan berusaha tetap terjaga. Sekali-sekali dia mengajak sopir mengobrol. Bagaimana pula Sudaryadi? Sobat ini dari tadi sudah mimpi. Kelihatan lelap sekali, tak ingat apa-apa lagi.

Tepat di Pujasera pinggir jalan tol kami berhenti. Mau istirahat sebentar sambil minum kopi. Teman-teman ambil kesempatan untuk merokok. Ada setengah jam lebih kami disana. Tepat pukul 15.30 kami melanjutkan perjalanan. Keluar dari tol lalu langsung masuk Surabaya. Saya diantar lebih duluan ke rumah. Begitu saya turun mereka pamit, bilang mau langsung pulang. Tampaknya Imam  tak sabaran lagi mau ketemu si Kecil di rumah.

Tiba di kamar, tubuh terasa lunglai akibat kelelahan. Tidak lama saya terlelap. Tidur nyenyak sampai malam. Dalam tidur saya bermimpi menulis status di Facebook: “Pulang dari perjalanan ke Bromo, kini badan pegal linu. Selamat malam sahabat, semoga mimpi indah. Mau oleh-oleh dari sana? Sebentar gua kirimkan, pokoknya sip, deh!” Tiba-tiba saya terbangun, kaget. Mimpi koq menulis status. Janjikan oleh-oleh lagi. Oleh-oleh apaan? Hm… barangkali sharing bisa juga, sekedar bagi-bagi pengalaman. Wah, benar-benar sudah terobsesi dengan Facebook!

Surabaya, 14 Desember 2009 – Oleh Farel M. Sinaga

Gita Damai di Puncak Bromo – Bagian 3

Lalu kami masuk ke mobil. Posisi duduk tetap seperti semula. Hawa pegunungan kini tidak sedingin pagi tadi. Mobil mulai menurun mengikuti arah dari mana kami datang sebelumnya. Kini suasana agak santai, tidak setegang tadi pagi. Tadi pagi masih gelap dan berkabut sehingga tidak ingin membuka percakapan dengan sopir. Takut konsentrasi  terganggu sehingga bisa membahayakan. Namun suasana kini sudah berubah, keadaan sekeliling sudah terang. Lama berdiam diri, kucoba membuka percakapan dengan sopir:

“Mas, sudah lama jadi sopir disini?”  tanya saya.

“Kira-kira sepuluh tahun lebih,” sopir menjawab tetapi pandangannya tetap ke depan.

“Penduduk disini?”

“Ya, tinggal di Ngadisari.”

“Subuh tadi saat melintas melewati kabut, Mas kelihatan santai saja. Padahal, kita-kita ini sudah pada deg-degan?”

“Saya juga sedikit kuatir. Hanya saja jalur yang kita lalui cuma dataran pasir. Tak ada  jurang maupun parit di tepi jalan. Paling mobil salah arah atau menabrak gundukan tanah. Lagi pula jejak roda masih terlihat jelas. Tinggal kita ikuti saja. Cuma harus hati-hati dan jalan musti pelan,” lanjutnya menjelaskan.

“Wah, pengalaman 10 tahun berarti sudah hapal benar tempat ini. Bahkan kalau tutup matapun masih ingat arah yang mau dituju!” seru saya memuji.

Dia hanya ketawa kecil. Lalu diam dan suasana hening kembali. Di belakang sama sekali tak terdengar suara. Barangkali tidur atau melamun? Bisa juga tutup mata lantaran takut mabuk. Jalan terus menurun dan berliku-liku. Kadang terlihat jurang amat dalam menganga di tepi jalan. Kelihatan jalan disini apalagi tepi jurang tidak semua pakai pagar pembatas sebagimana lazimnya jalan di pengunungan. Kalau tidak hati-hati, kenderaan bisa  menerobos dan menyemplung masuk jurang. Bah, kalau sempat kejadian, bisa-bisa tak balik lagi ke Jakarta atau  Pematang Siantar. Namun, saya percayakan saja pada sopir begitu pula kenderaan yang kami tumpangi. Tentu saja tidak lupa berdoa, semoga tetap dilindungi dalam perjalanan.

Tidak berapa lama, akhirnya kami tiba di laut  pasir yang kami lintasi tadi pagi. Suasana telah berobah drastis dibanding sebelumnya. Udara cerah dan pemandangan sekitar kini terlihat dengan jelas. Benar-benar indah dan mengagumkan. Pagi tadi ketika dilihat dari puncak, tempat ini tampak begitu angker saat masih diselimuti kabut tebal. Kini kabut telah sirna, entah kemana. Sejauh mata memandang hanya ada laut pasir luas dengan latar belakang tebing gunung yang curam.  Pemandangan lain yang tak kalah bagus adalah Gunung Batok. Sebelumnya tampak hitam kelam di balik awan putih tebal. Kini telah terbebas dari awan dan warna asli hitam kecoklatan terlihat dengan jelas.

Sesaat kemudian kami telah tiba di tempat parkir mobil. Lokasi parkir tidak jauh dari sebuah pura Hindu yang berdiri  disana. Tampak mobil lain yang tiba lebih dahulu sudah terparkir. Sekarang mereka sedang menunggu penumpang yang sedang naik ke atas melihat kawah Tengger.  Begitu turun dari mobil, kami langsung disambut oleh beberapa orang penunggang kuda. Mereka menawarkan untuk membawa kami ke atas sampai ke tangga menuju kawah. Saya telah diwanti-wanti oleh sopir kalau menyewa kuda pembayaran dilakukan setelah kami tiba kembali disini.

Jalan Menuju Kawah Tengger

Sejenak saya memandang ke atas. Puncak Gunung Tengger cukup jauh dan jalan terus mendaki. Barangkali jaraknya ada satu kilometer. Bagaimana kalau saya coba jalan kaki dulu hingga sebatas saya mampu, baru naik kuda kalau tidak kuat lagi? Tidak apa-apa, soalnya hanya ingin menguji stamina saja. Apakah dengan usia segini saya masih kuat untuk bertualang ke atas sana? Lalu rencana ini saya utarakan pada teman-teman. Saya sarankan mereka boleh saja naik kuda kalau tidak kuat berjalan kaki. Tetapi merekapun agaknya ingin juga menguji kemampuan dan bersikukuh untuk ikut jalan kaki.

Kelihatan banyak pengunjung yang pergi berjalan kaki. Diantaranya para ibu serta orang tua. Kalau  mereka saja mampu, kenapa kami tidak? Kami mulai melangkah dan berjalan menyusuri dataran berpasir. Begitu berjalan beberapa langkah, tiba-tiba tercium bau pesing dimana-mana. Rupanya kuda-kuda itu pada kencing disini. Hanya saja begitu kencing langsung terserap oleh pasir, sehingga tidak sampai tergenang. Kotoran kuda sendiri  tidak terlihat berserakan. Boleh jadi pemiliknya diwajibkan untuk segera membersihkan apabila kudanya mengotori jalan.

Gunung Batok Dilihat Dari Dekat

Letak jalan menuju kawah Tengger persis bersebelahan dengan Gunung Batok. Kini bentuknya tampak jelas sekali dilihat dari jarak dekat. Cocok sekali dengan namanya Gunung Batok, bentuk maupun warnanya memang mirip tempurung kelapa yang terbalik. Permukaan gunung ini gundul, nyaris tak ditumbuhi apapun. Tumbuhan, kalaupun ada hanya di beberapa tempat  berupa ilalang atau belukar di antara celah bebatuan. Kalau diperhatikan, gunung ini terlihat laksana sebuah onggokan cadas keras kokoh tersembul dari permukaan bumi. Mirip dengan foto gunung di permukaan Mars produksi NASA.

Lembah antara Jalan Ke Kawah dan Gunung Batok

Antara jalan setapak menunju kawah dengan Gunung Batok dibatasi oleh lembah. Lembah ini tidak begitu dalam maupun curam. Tapi kalau sempat terperosok dan jatuh tergelincir, cadas keras dan tajam dengan celah sempit siap menampung di bawah sana. Pagar pengaman sekedar untuk pembatas di pinggir jalan tidak ada. Cukup berbahaya apabila naik kuda, bisa-bisa kudanya tergelincir masuk lembah. Tapi kemungkinan ini kecil sekali. Soalnya setiap kuda yang dinaiki oleh turis selalu dituntun oleh pemiliknya. Dia berjalan di depan  sambil menarik tali kekang kuda yang mengikut dari belakang.

Rombongan Turis Dilihat Dari Tebing Kawah

Kuda-kuda yang disewakan di tempat ini cukup banyak. Barangkali jumlahnya ada 100 ekor lebih. Para penunggang ini kelihatan sabar mengikuti orang-orang yang berjalan sambil menawarkan kudanya. Berbagai cara mereka lakukan untuk mempengaruhi pengunjung. Misalnya, ada yang mengatakan:

“Capek lho, Pak. Itu lihat, tempatnya jauh sekali di atas sana. Jalan harus mendaki lagi. Jarang ada orang yang mampu berjalan sejauh itu.”

Sudah bisa ditebak, makin dekat ke tujuan tarip sewa juga akan turun. Penunggang kuda yang dari tadi mengikuti saya juga bertindak demikian. Tiap saya melangkah sekitar 50 meter sewa juga diturunkan. Tetapi saya tetap menolak secara halus . Satu hal yang membuat saya terkesan, mereka kelihatan sabar biarpun tawarannya ditolak. Tindakan  mereka cukup sopan, tidak terlihat ada pemaksaan.

Sejak berangkat dari tempat parkir, saya berjalan di depan dengan Sudaryadi. Imam dan sopir menyusul dari belakang dengan jarak sekitar 10 meter. Namun, semakin lama berjalan tampak kedua orang itu semakin jauh tertinggal di belakang. Bahkan sesaat kemudian tampak keduanya sudah terduduk di atas bebatuan. Agaknya mereka sudah kelelahan dan kehabisan tenaga. Wah, masih usia muda begini sudah ampun! Melihat mereka berhenti, segera kuajak Sudaryadi untuk istirahat sambil menunggu. Tapi dari jauh kelihatan Imam memberi tanda agar kami jalan terus, tidak usah menunggu mereka.

Istirahat Memulihkan Tenaga

Sudaryadi rupanya sudah kebelet mau buang air kecil sejak tadi. Dia mulai mencari lokasi aman namun tak ada karena banyak orang. Kusarankan agar dia pergi ke balik batu besar saja, tidak usah jauh-jauh. Tak bakal ada yang mengintip. Memangnya siapa yang mau mengintip, dan apa yang mau diintip? Begitu dia berlalu, saya cari tempat duduk buat istirahat sejenak. Cukup lama saya menunggu, tetapi Sudaryadi belum muncul-muncul. Lho, si kawan ini kemana? Saya bangkit untuk mencari tahu, kenapa bisa sampai segitu lama. Tetapi, alamak! Hanya  untuk pipis harus beranjak sampai sejauh 50 m?

Tak sabar lagi menunggu, akhirnya saya melanjutkan perjalanan.  Seorang penunggang  kuda tiba-tiba sudah membuntuti. Harga yang ditawarkanpun makin turun. Tetapi saya  tolak. Kelihatan dari raut wajahnya dia kecewa namun tidak bilang apa-apa. Kujelaskan pada dia bahwa sekarang  sudah tanggung naik kuda karena jarak hanya sekitar 50 m lagi. Kutambahkan lagi bahwa saya hanya ingin menguji kemampuan untuk berjalan sampai ke puncak. Sekembali dari kawah nanti kemungkinan saya akan naik kuda. Kusarankan agar dia mencoba mendatangi teman-teman yang tertinggal di belakang.

Akhirnya saya tiba di bawah tangga. Lalu istirahat sebentar sambil menaksir jarak yang harus ditempuh. Tampak ujung tangga di atas sana cukup  jauh. Berarti perjuangan masih berat agar bisa lolos sampai final. (Lho, kayak Piala Dunia saja, pakai final segala!) Telah kutekadkan untuk menghitung anak tangga dari awal sampai akhir. Kabarnya telah banyak turis yang mencoba tetapi hasilnya tidak pernah sama. Menurut saya ini harus pakai kiat khusus, agar jawaban akurat. Lalu saya mulai melangkah menapaki anak tangga. Pada anak tangga ke-10 berhenti untuk istirahat—dan tentu saja agar tetap bisa fokus.

Bersambung ke Bagian 4