//
you're reading...
Antariksa, Sains dan Teknologi

Jelajah Mars: Cara NASA Kirimkan Misi Berawak

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi dan rekayasa, agaknya mimpi  untuk mendaratkan manusia di planet Mars bakal menjadi kenyataan. Memasuki usia ke-40 manusia pertama mendarat di bulan, kini NASA sedang merencanakan untuk mengirimkan misi berawak ke planet merah itu. “Kita masih melihat, eksplorasi ke planet Mars  merupakan salah satu tujuan di masa mendatang pada tingkatan paling tinggi. Mengirim seorang manusia untuk menjejakkan kaki di planet lain barangkali akan menjadi suatu petualangan terbesar, hasil karya manusia terbesar sepanjang sejarah,” demikian diungkapkan oleh Bret Drake—seorang peneliti NASA—di Johnson Space Center di Houston Texas, Amerika Serikat.

Pengiriman misi berawak ke planet merah itu merupakan suatu tantangan tersendiri  bila melihat keterbatasan teknologi yang tersedia saat ini serta berbagai kemungkinan yang tidak diharapkan selama penjelajahan. Meskipun demikian, NASA tidak mau menyerah begitu saja. Kini sedang dikembangkan suatu strategi untuk pengiriman misi berawak ke Mars dengan  melakukan berbagai penyesuaikan sesuai ide-ide  baru yang muncul. Bagi NASA, planet Mars merupakan salah satu dari sekian banyak target yang amat   menakjubkan yang telah direncanakan sejak lama.

Kini sedang dipelajari bagaimana cara pengiriman yang paling memungkinkan sesuai situasi dan kondisi saat ini. Perjalanan misi berawak ke Mars akan makan waktu 180 hari. Ada dua pilihan yang bisa digunakan sebagai sarana pengangkut yaitu roket dengan bahan bakar nuklir dan mesin dengan bahan bakar kimiawi. Roket berbahan bakar nuklir menggunakan rancangan tahun 60 dan 70-an. Sebuah reaktor akan digunakan untuk memanaskan gas hingga ke suhu yang amat tinggi lalu meniupnya melalui semacam pipa yang dirancang secara khusus untuk menghasilkan daya dorong.

Penggunaan model peluncuran  seperti ini dianggap lebih  efektip dan berkinerja amat tinggi dan dipastikan aman karena bebas radioaktip ketika peluncuran meskipun menggunakan sistem nuklir. Ide untuk menggunakan mesin berbahan bakar kimiawi—pada dasarnya sama sebagaimana digunakan oleh pesawat ulak-alik yakni oksigen cair dan hidrogen cair. Teknologi mesin berbahan bakar kimiawi  sudah cukup dikenal secara luas serta dikuasai dengan baik, hanya saja penggunaannya tidak seefektip bahan bakar nuklir.

Agar bisa mencapai permukaan serta mendarat di Martian, NASA sedang memimpikan satu alat pendarat aerodinamis ketika akan mendarat dibantu oleh sebuah alat  pendorong ketika pesawat sedang  bergerak turun. Selain itu  pilihan bahan bakar paling memungkinkan bagi kenderaan penjemput awak ketika akan kembali ke bumi yang makan waktu 6  bulan adalah kombinasi antara metan dengan oksigen cair. Oksigen terdapat di atmosfir Martian dalam bentuk karbon dioksida sehingga sumber yang ada di Mars dapat digunakan untuk menghasilkannya.

Sebelum misi berawak diberangkatkan ke Mars, kargo-kargo peralatan dan kebutuhan lainnya sedapat mungkin sudah harus dikirimkan terlebih dahulu. Segala keperluan harus dipastikan sudah siap dan tersedia sebelum misi diberangkatkan. Misi penjelajahan Mars tidak   sama dengan misi lunar dimana saat kepulangan dapat dilakukan kapan saja—di planet Mars sekali diputuskan, seorang awak kemungkinan akan berada disana selama bertahun-tahun.

Menurut perkiraan NASA, pengiriman sebuah misi berawak ke Mars perlu disertai dengan dua kali pengiriman muatan secara besar-besaran ke ruang angkasa seberat kurang lebih dua kali Stasiun Antariksa Internasional (International Space Station)—kira-kira 800 metrik ton barang-barang peralatan teknik. Untuk meluncurkan muatan ini, NASA berencana menggunakan roket Ares V, salah satu roket paling kuat yang dirancang secara khusus agar mampu membawa 188 metrik ton  muatan ke orbit rendah bumi sekali angkut.

Drake menambahkan, NASA akan mencoba meminimalisir jumlah peralatan yang akan dibawa. Kapasitas angkut roket Ares V yang dinilai cukup besar hanya mampu melakukan penggandengan otomatis dengan cara sederhana di orbit dan membongkar komponen muatan. Menempatkan manusia secara langsung di planet Mars akan dapat memperoleh pengalaman berharga dan latihan serta menempatkan apa yang telah dilihat pada konteksnya untuk mengambil keputusan dalam seketika. Pekerjaan yang dianggap sulit serta membahayakan akan dilakukan oleh robot. Habitat utama yang akan dihuni oleh para awak di planet Mars akan dikirimkan terlebih dahulu. Persediaan dan penyimpanan cadangan air serta oksigen diolah dari sumber yang ada di Mars. Begitu pula dengan persediaan bahan bakar untuk keperluan kenderaan saat akan tinggal landas.

NASA memimpikan sebuah tim dengan 6 astronout bagi sebuah misi Mars, jumlah yang dianggap ideal sesuai keahlian masing-masing—komandan, ilmuwan, insinyur, petugas medis, dan sebagainya. Lama tinggal yang diinginkan selama di Mars kira-kira 500 hari. Otonomi setiap awak amat penting mengingat jauhnya jarak antara kedua planet sehingga ada waktu tunda selama 40 menit selama berkomunikasi.  Selain itu penting untuk diingat, awak tidak punya kemampuan sama sekali untuk mengisi kembali cadangan persediaan. Apa yang dimiliki  hanya sebatas persediaan yang telah diberangkatkan lebih dahulu serta muatan yang dibawa langsung pada saat peluncuran. Apabila terjadi suatu kerusakan atau kegagalan sistem, mereka harus mampu untuk memperbaikinya.

Awak harus dipastikan bisa memenuhi kebutuhan sendiri selama disana. Agar kelangsungan misi perjalanan tetap terjaga,  maka udara dan air harus benar-benar didaur ulang secara teratur.  NASA telah punya pengalaman di Stasiun Ruang Angkasa Internasional tentang perlunya revitalisasi udara serta pemulihan air. Namun yang menggembirakan, atmosfir Mars mengandung karbon dioksida sehingga bisa membantu untuk mendapatkan oksigen dan air untuk kebutuhan para awak selama disana. Persediaan makanan didapatkan dengan cara menanam benih biji-bijian dan tanaman  dalam mesin khusus (salad machine) sehingga para awak tetap mendapatkan makanan segar serta nutrisi yang penting bagi kesehatan.

Kesulitan yang dialami selama tinggal dalam waktu lebih kurang 2,5 tahun di ruang angkasa dengan hanya beberapa orang dalam suatu lingkungan yang berpotensi mematikan tidak diragukan akan menantang kejiwaan para penjelajah Mars. Keprihatinan utama para astronot selama tinggal di Mars adalah bahaya radiasi dalam bentuk badai partikel energi tinggi yang berasal dari matahari maupun sinar kosmis dari antariksa bagian dalam. Menurut Drake, bahan pelindung radiasi yang terbaik adalah hidrogen atau air—yang kaya dengan hidrogen.

Di permukaan planet Mars, NASA menginginkan agar barang muatan yang tiba terlebih dahulu  dapat segera memproduksi air sebelum awak tiba agar dapat dipakai sebagai perisai selama tinggal disana. Selama perjalanan bolak balik antara Bumi dan Mars, pesawat dapat diatur secara khusus sehingga air dan makanan terdapat disekeliling  area  dimana para awak paling banyak menghabiskan waktunya. Tempat perlindungan khusus yang ada  dalam pesawat yang merupakan bagian tidak terpisahkan digunakan untuk berlindung dari  peristiwa radiasi singkat yang dapat mematikan.

Sumber : Space.Com (terjemahan bebas) 

Diskusi

One thought on “Jelajah Mars: Cara NASA Kirimkan Misi Berawak

  1. Pastinya butuh perhitungan yang matang tuh..

    Posted by musikdanfilm | 27 Januari 2010, 02:43

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: