//
you're reading...
Kisah Nyata, Perjalanan, Personal, Ruang Santai

Sial, Tiket Kereta Api Habis

Minggu, 9 Agustus 2009 di Jakarta. Habis kebaktian di gereja saya dan anak-anak langsung pulang ke rumah. Soalnya sore ini saya musti balik ke Surabaya. Tiba di rumah, istirahat sebentar lalu mulai kemas-kemas. My lovely daughter, Christy mulai sibuk dengan tugas rutin di dapur setiap saya mau berangkat ke Surabaya. Biasalah, menyiapkan makanan buat bekal saya nanti selama di perjalanan. Maria langsung tidur karena semalam agaknya kurang tidur sehingga mengantuk berat. Anak ini memang seorang penderita insomnia—susah tidur. Si bungsu Ari mulai browsing internet mau lihat-lihat status di Facebook. Mama anak-anak? Tadi terpaksa ditinggal di gereja karena harus ikut latihan paduan suara kelompok wanita sehingga datang  menyusul belakangan.

Jam 15.30 berangkat dari rumah. Saya diantar oleh Daniel, anak saya yang sulung. Kami ambil  jalan pintas lewat Cimanggis untuk menghindari kemacetan di Jalan Alternatif Cibubur. Entah kenapa, setiap Minggu sore kenderaan selalu tersendat disini sebelum masuk tol Jagorawi. Selama dalam perjalanan menuju pintu tol Cimanggis lancar-lancar saja, tidak ada hambatan apa-apa. Masuk tol Jagorawi tiba-tiba mobil langsung dipacu dengan kecepatan tinggi. Terus terang saja, kalau anak ini yang menyetir saya tidak bisa tenang selama di perjalanan. Main tekan gas seperti dikejar setan saja, bukan main!

Biasanya saya menunggu kereta api di stasiun Jatinegara. Tapi kali ini harus ke stasiun Gambir karena saya belum memiliki tiket. Penjualan tiket hanya ada di stasiun Gambir untuk tujuan Surabaya. Jam 17.30 kami tiba di stasiun, saya langsung buru-buru ke loket. Sialan, ternyata tiket kereta api Gumarang sudah habis. Padahal ini bukan musim libur, koq bisa habis secepat itu? Saya mulai celinguk-celinguk kiri-kanan, mana tahu ada yang membatalkan tiket atau calo barangkali. Ternyata tidak ada! Mau bagaimana lagi, kali ini terpaksa beli tiket berdiri. Kereta api Sembrani sebenarnya masih ada untuk keberangkatan jam 18.45, cuma saya takut terlambat tiba di Surabaya.

Dengan berat hati, tiket akhirnya saya beli kendati tanpa nomor tempat duduk. Sialnya harga tiket duduk dan berdiri sama saja, tidak ada pengecualian. Yah, peristiwa seperti ini bukan pertama kali saya alami  selama bertugas di Surabaya. Terlambat beli tiket apalagi musim libur, harus siap menerima resiko seperti ini. Duduk tanpa sandaran di restorasi, nongkrong di gang antara gerbong atau menumpang duduk di ruang istirahat kru selagi kosong sudah pernah saya alami. Dari loket saya langsung menuju ruang tunggu di atas menunggu kereta yang sebentar lagi tiba dari stasiun Kota. Tidak lama kemudian, kereta datang. Saya langsung menuju ruang restorasi dengan buru-buru karena harus berebut tempat duduk dengan penumpang lain yang senasib.

Tapi kalau nasib memang lagi mujur, rezeki itu tidak kemana-mana! Ketika kereta sudah lewat stasiun Jatinegara, seorang petugas restorasi memberitahu bahwa di gerbong 7 ada sebuah tempat duduk kosong. Saya disarankan pindah saja kesana selagi masih kosong. Cuma saya harus siap untuk hengkang kalau ternyata penumpangnya ada. Ini jelas tidak nyaman. Bagaimana lagi duduk tenang-tenang tiba-tiba harus menyingkir, ketika pemiliknya datang. Di depan mata penumpang lain lagi! Malu dong, tapi tidak apalah. Bisa duduk sebentar saja sudah lumayan ketimbang duduk semalaman di restorasi tanpa sandaran tempat duduk.

Tiba di stasiun Cirebon aman, ternyata tempat duduk itu tetap kosong. Begitu pula di Tegal, Pekalongan hingga Semarang. Ya sudah, barangkali ini memang rezeki saya. Bisa jadi tempat duduk itu milik seseorang yang ketinggalan kereta atau membatalkan perjalanan tanpa sempat melapor. Bagi saya, apapun alasannya tidak perlu dipusingkan. Toh saya tidak merugikan atau merebut hak orang lain. Yang jelas, saya bisa duduk enak hingga tiba tepat jam 07.00 di stasiun Pasar Turi Surabaya kendati dengan tiket tanpa tempat duduk.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: