//
you're reading...
Kisah Nyata, Opini

Dugam, Selamat Jalan Kawan

Namanya Bistok Panggabean berasal dari Sei Rampah Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Menilik nama dan marganya tidak diragukan lagi kalau dia adalah seorang suku Batak dari Silindung di Tarutung. Dia itu adalah teman seangkatan saya ketika diterima menjadi karyawan di Departemen Keuangan dan ditempatkan di seksi DL Tk.I/AKPB Kantor Inspeksi Pajak di Pematang Siantar pada 1 Oktober 1977 silam.

Perawakan tubuhnya gemuk dengan tinggi badan sedang─tidak terlalu tinggi juga tidak  terlalu pendek. Wajahnya selalu kelihatan serius dengan nada suara berat. Sekilas kalau orang baru kenal pasti sedikit kikuk karena mengira dia itu seorang preman melihat rambutnya yang semi gondrong, awut-awutan dan tidak tersisir rapi. Warna kulitnya agak gelap meskipun tidak terbilang hitam sama sekali. Sorot mata tajam dan jarang kelihatan  senyum.

Tetapi kalau sudah mengenal dia lebih lama, orang pasti salah sangka dan merasa kecele. Ternyata dia adalah seorang yang punya selera humor tinggi. Guyonannya sering membuat kami satu ruangan tertawa terpingkal-pingkal. Ada-ada saja istilah baru yang dia ucapkan membuat kami merasa geli. Bila satu hari saja dia tidak masuk kantor, suasana dalam ruangan akan terasa sepi. Tidak ada lagi guyonan khas yang terlontar untuk meramaikan suasana.

Sehari-hari kami panggil dia dengan nama ‘Dugam’ dan  kelihatan  dia amat senang dengan gelar ini. Soalnya kalau marah dia sering mengucapkan kata-kata, “Kudogam pula kau nanti, baru tahu!” Kudogam maksudnya kutinju. Pernah seorang teman bernama Anto marah sekali, lalu menantang dia berkelahi. Pasalnya ketika main sepak bola yang dia cari dan tendang bukan bola, melainkan kaki lawan. Ditantang begitu, apa dia bilang?  “Geger otak kau nanti, To. Tembok saja pecah kalau kudogam, apalagi kepalamu!” Kami segera melerai mereka berdua agar pertengkaran tidak berkepanjangan. Besoknya, kedua orang ini sudah rukun lagi seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu. Sama sekali tidak terlihat tanda-tanda dendam di antara mereka.

Di antara teman satu angkatan berjumlah 26 orang di kantor itu, dialah yang pertama sekali memiliki sepeda motor dari hasil keringat sendiri. Sepeda motor itu dia beli bekas pakai (keluaran awal tahun 1970-an), merek Honda warna biru tua pakai dua knalpot. Begitu jual-beli jadi, saringan knalpot langsung dia lepas, stang kemudi dipress sehingga terkesan menyempit dan meninggi. Persis  stang milik  gang sepeda motor yang sering kita lihat dalam  film-film Amerika. Ketika sedang mengendarai motor, posisinya kelihatan seperti bersandar karena stang kemudi agak sempit dan tinggi.

Dari kejauhan ketika terdengar raungan suara motor, orang akan segera tahu siapa yang datang. Itu sudah pasti dia dengan suara knalpot motor yang khas. Sepeda motor dua knalpot tanpa saringan tentu saja menghasilkan suara bising nyaris memekakkan telinga. Sering dia distop oleh polisi lalu lintas di jalan raya karena suara bising ini, tetapi entah kenapa dia selalu bisa lolos. Sekali waktu dia patuh, lalu saringan knalpot dia pasang lagi. Namun tidak berapa lama,  saringan itu kelihatan sudah dilepas lagi.

Pernah kami tanya kenapa saringan knalpot itu dicopot lagi padahal baru saja dipasang. Dia menjawab dengan enteng, “Ah, suara keretaku jadi  pecah, enggak enak didengar. Coba kalau saringan dibuka, suaranya pasti bulat kedengaran. Dari jauh ente sudah tahu kalau saya datang, hanya dengan mendengar suara kereta saya!” Pada umumnya di daerah Sumatera Utara  bilang  sepeda motor adalah kereta, bukan motor sebagaimana di Jawa dan beberapa daerah lain di Indonesia.

Teman saya yang satu ini unik. Kalau dia yang mengendarai sepeda motor dan kita dibonceng di belakang, dia sering tancap gas layaknya seorang  pembalap. Tetapi ketika tiba giliran dia dibonceng, yang dilakukan adalah memegang pinggang kita erat-erat kiri-kanan. Bukan memeluk pinggang sampai perut selayaknya orang ketika dibonceng. Tidak jarang kita malah merasa kegelian karena pinggang dicekal kiri-kanan. Seolah-olah dia siap untuk melompat kalau terjadi apa-apa. Kelihatan sekali dia seperti tidak yakin  kalau kita yang membonceng.

Tetapi coba kalau dia yang pegang kemudi. Kalau kita ingatkan supaya lebih berhati-hati dan jangan terlalu kencang, kita malah kena semprot. “Tenang aja kau diboncengan! Kayaknya kau kurang yakin samaku, ya? Tahu nggak, saya ini dulu bekas pembalap dan sering ngebut ketika masih duduk di SMA Negeri 1 Medan?” jawabnya dengan sedikit membual. Biasanya kalau sudah begini kita lebih bagus  diam saja seraya berdoa dalam hati, supaya tidak terjadi apa-apa selama perjalanan.

Setelah beberapa tahun di Pematang Siantar dia terkena mutasi ke daerah sedang saya masih tetap di kantor induk di Pematang Siantar. Mula-mula dia pindah ke Perdagangan wilayah Kabupaten Simalungun, lalu Sibolga di Tapanuli Tengah, Gunung Sitoli di Nias, Padang Sidempuan di Tapanuli Selatan lalu balik dan kami bertemu lagi di Pematang Siantar. Tetapi itu tidak lama sebab Juli 1993 kami harus berpisah lagi. Kali ini saya yang dipindahkan ke kantor lain tetapi masih di Pematang Siantar.

Kendati sudah pisah kantor, kami masih sering bertemu. Kalau bukan dia yang  datang berkunjung, tentu saya yang datang ke kantornya. Namun sejak saya pindah ke Medan pada Nopember 1996, praktis kami tidak pernah bertemu lagi. Dari Medan saya pindah lagi ke Bengkulu, terus ke Jakarta, dan terakhir di Surabaya. Dia sendiri sudah diangkat dalam jabatan Eselon IV tetapi perpindahannya hanya seputar Pematang Siantar, Kisaran lalu balik lagi ke Pematang Siantar.

Pada 1 September 2008 lalu dia pensiun dari Pegawai Negeri Sipil setelah mengabdi selama lebih kurang 31 tahun. Saya tidak tahu pasti, apa kegiatannya setelah pensiun. Cuma saya betul-betul kaget ketika datang SMS dari seorang teman seangkatan. Dia memberitahu bahwa Dugam telah meninggal dunia di Pematang Siantar akibat  serangan jantung pada Senin, 14 September 2009 lalu dalam usia 57 tahun. Tidak sangka dia pergi secepat itu karena selama ini tidak pernah ada berita yang menyatakan dia sakit.

Pikiran saya melayang kembali jauh ke masa silam sejak kami bertemu hingga melewati hari demi hari selama satu kantor di Pematang Siantar. Masih jelas terbayang ketika kami pernah satu kost di Jl. Ade Irma Suryani. Begitu pula dengan guyonan maupun gerutu kalau dia sedang marah atau jengkel. Tapi ada satu sifat terpuji dari almarhum yang tidak terlupakan. Dia seorang penolong dan selalu siap untuk menolong teman yang lagi mengalami masalah atau kesusahan tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Kini Dugam telah pergi untuk selama-lamanya meninggalkan isteri, anak dan adik  yang dia kasihi. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih mengampuni dosa dan kesalahan yang dia perbuat selama dia hidup. Buat keluarga besar yang ditinggalkan khususnya isteri yang kini telah menjadi orang tua tunggal, diberi oleh-Nya penghiburan agar tidak larut dalam duka berkepanjangan. Dugam, selamat jalan kawan. Kami selalu mengenangmu!

.

Surabaya, 16 September 2009 – Oleh Farel M. Sinaga

.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: