//
you're reading...
Kebudayaan, Opini, Ruang Santai

Hai Bes, Apa Kabar?

Besan—sebuah panggilan dalam hubungan kekerabatan di lingkungan warga Simalungun. Bila seorang laki-laki menikah, maka isteri dari saudara laki-laki isterinya secara otomatis akan menjadi besan. Demikian pula berlaku sebaliknya. Jika seorang wanita menikah, maka suami dari saudara perempuan sang suami akan dipanggil besan. Tetapi, apakah selalu harus persis seperti itu? Tidak juga. Cuma pada umumnya setiap isteri dari laki-laki yang semarga dengan isteri kita, meskipun dia bukan saudara kandung semestinya dipanggil besan.

Dalam tradisi Batak Simalungun, ada beberapa larangan yang sifatnya tabu dilakukan oleh  dua orang yang saling berbesan. Misalnya, mereka berdua secara kebetulan berada pada satu tempat dalam waktu yang sama. Selain mereka tidak ada orang lain disana. Dalam kondisi seperti ini, biasanya salah seorang dari mereka akan menyingkir secara halus. Tentu saja dia menyingkir bukan lantaran tidak suka bertemu, tetapi tradisi memang mengharuskan demikian. Bisa saja dia pergi pura-pura mau mengambil sesuatu, agar besannya tidak tersinggung ditinggal begitu saja.

Selain tabu berada berduaan pada satu tempat, waktu berbicarapun selalu fokus pada inti permasalahan tanpa perlu berpanjang-lebar.  Pokoknya, suasana benar-benar kaku, kikuk dan serba formal. Bagaimana jika seandainya terlihat mereka berdua sedang bercanda? Wah, perbuatan ini bisa  bikin heboh karena dianggap tabu dan terlarang. Kecuali kalau ada orang lain disana, tidak menjadi masalah. Biasanya suasana kaku akan sedikit mencair dengan kehadiran seseorang. Bahkan, sekalipun dia itu hanya seorang bayi.  Bayi ini bisa dimanfaatkan menjadi semacam perantara bila mereka berdua ingin saling berkomunikasi.

Hingga kini aturan kaku semacam ini masih bisa ditemukan diberbagai desa pedalaman Kabupaten Simalungun. Namun kebiasaan ini berangsur-angsur mulai  mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Kebiasaan lama yang dianggap merugikan mulai ditinggalkan. Misalnya, seorang wanita mengalami kecelakaan. Kebetulan tidak ada orang di sekitar itu selain besannya sendiri. Besan ini pasti diliputi keraguan untuk bertindak segera mengangkat dan membopong korban. Keraguan ini timbul karena  tradisi tidak membolehkan mereka berdua saling bersentuhan.

Tak dapat dipungkiri, situasi sekarang amat jauh berbeda dibanding sebelumnya. Terutama  bagi warga Simalungun yang sudah menjadi masyarakat perkotaan. Orang desa yang baru tiba di kota akan dibuat terpana dan terheran-heran melihat perilaku orang kota. Dua orang  saling berbesan mestinya selalu berusaha agar tidak melampaui batasan yang ada. Tetapi apa yang dia saksikan malah sebaliknya. Orang yang saling berbesan terlihat bersenda gurau selayaknya dua orang teman karib. Tidak terlihat lagi batasan atau norma yang harus dipatuhi sebagaimana berlaku di desa. Kebiasaan yang dianggap menghambat kemajuan tampak telah dibuang jauh-jauh. Para orang tua hanya bisa mengelus dada melihat tingkah polah para usia muda yang sudah melupakan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Tahun 1990-an penulis pernah bertemu dua orang saling berbesan dalam satu pesta perkawinan di Pematang Siantar. Wanita menyapa pria dengan cara gaul dan penuh percaya diri. “Hai Bes, sombong sekarang, ya! Dari mana saja selama ini, koq tidak kasih-kasih kabar. Mentang-mentang sudah punya posisi bagus sekarang jadi lupa, ya?” “Wah, sorry Bes!” jawab sang pria tak kalah gaul. “Bukan sombong. Selama ini saya berada di Jakarta  mengikuti Diklat. Baru minggu kemarin tiba disini. Wah, besan kelihatan makin cantik dan ceria saja!”

Dalam komunitas Batak, kita sering menemukan satu atau lebih perkumpulan arisan marga.  Pertemuan biasanya dilakukan sekali sebulan di rumah anggota secara bergiliran. Disamping arisan, juga untuk saling melepas rindu dan bernostalgia. Usai acara arisan kadang-kadang dilanjutkan dengan main kartu pakai taruhan uang kecil-kecilan.  Nilai taruhan paling besar hanya Rp 500. Taruhan dimaksudkan agar setiap orang bermain dengan serius dan tidak asal-asalan.

Nah, ini adalah pengalaman nyata dalam salah satu arisan marga. Sehabis acara arisan, kegiatan  dilanjutkan dengan permainan joker karo. Biasanya para pemain dipisah dalam  kelompok bapak dan kelompok ibu. Tetapi kali ini para pemain baik pria maupun wanita digabung karena kurang pemain. Duduk bebas dimana dia suka sehingga dua orang saling berbesanpun akhirnya harus duduk berdampingan.

Permainan diselingi tawa ria para pemain dan penonton terutama ibu-ibu. Namun, seorang ibu yang ikut main dari tadi tampak cemberut dan kebanyakan diam. Kebetulan di atasnya adalah besan sendiri. Lama-lama lelaki ini menjadi heran, lalu  bertanya, “Besan dari tadi koq diam saja, kurang sehat ya?” “Besan pelit kalipun. Buangannya satupun tak termakan dari tadi. Kasih dulu satu, Bes!” jawab si ibu sedikit memelas. Alamak! Gejala apa ini?

.

Surabaya, 2 Desember 2009

Oleh Farel M. Sinaga

Diskusi

2 thoughts on “Hai Bes, Apa Kabar?

  1. Mungkin badaya ini jadi satu hal yang menghambat jika kita tilik dari sudut pergaulan dan kelancaran komunikasi antara keluarga, namun ini adalah satu warisan budaya yang mau tidak mau harus kita lestarikan. Mungkin tidak harus seperti orang2 jaman dulu, kalau ngomong sama besan harus melalui perantaraan, tapi aspek kesopanan itu harus tetap dijaga.
    Nai ma anggo pandapot hu tulang…

    salam

    Posted by Jaya Afrianto | 14 Desember 2009, 10:10
    • Tepat sekali, warisan budaya kita lestarikan tetapi kebiasaan kaku yang bisa menghambat dan merugikan agaknya sudah bisa dirobah tanpa mengabaikan aspek kesopanan.
      Diateitupa Ambia, horasma!

      Posted by Elsen21Bethamar | 14 Desember 2009, 11:47

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: