//
you're reading...
Geografi dan Lingkungan, Kisah Nyata, Perjalanan, Personal

Gita Damai di Puncak Bromo – Bagian 2

Pria ini menawarkan agar kami menginap di hotel tempat kami berhenti. Sedikit berpromosi  dia kasih tahu fasilitas apa saja yang tersedia. Segera kami masuk untuk melihat kamar yang dia maksud. Kami sendiri hanya butuh satu kamar sekedar untuk istirahat. Dalam kamar ada dua tempat tidur masing-masing bisa muat dua orang. Setelah berunding sebentar kami menyatakan setuju. Lalu kami serahkan uang panjar Rp 200.000. Sisanya dibayar besok. Sewa kamar satu malam Rp 150.000 sedang tarip satu kenderaan buat empat orang Rp 400.000. Sebelum pergi, dia berjanji akan datang menjemput pukul 04.00 dini hari nanti.

Udara malam di Ngadisari terasa dingin sekali. Jacket yang saya kenakan agaknya tidak mempan untuk menahan hawa dingin. Beberapa orang pedagang asongan datang ke hotel menjajakan jaket, kain tebal penutup kepala, syal, dan sarung tangan. Saya beli sebuah penutup kepala serta sepasang sarung tangan. Harga jadi seluruhnya tidak kurang dari Rp 25.000, itupun setelah terjadi tawar-menawar. Biasalah, namanya pedagang. Dengan  sedikit memelas dia bilang di bawah harga itu dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Hanya itu yang saya perlukan. Sweater dan syal telah saya siapkan dari rumah.

Setelah masuk kamar saya coba menyentuh air di wastafel. Auh, dinginnya bukan main! Terasa membekukan! Lantas kran air panas saya buka. Butuh waktu agak lama hingga  airnya keluar. Lalu saya membasuh wajah dan tangan. Habis itu mengenakan sweater serta berbagai atribut lainnya. Teman-teman juga melakukan hal serupa. Selesai lalu keluar untuk mencari kopi di kantin. Ternyata kantin sudah tutup, maklum sudah pukul 01.30 pagi. Kami diminta pria penjaga  hotel pergi ke warung kopi di seberang jalan.

Tiba disana tampak warung itu ditunggui oleh seorang nenek tua. Rupanya dia sudah sempat tertidur. Begitu mengetahui  kami datang dia lantas bangun. Kopi yang dia suguhkan ternyata kopi instan, bukan kopi hitam kesukaan saya. Kami cuma sebentar disana. Habis minum kopi  langsung balik ke hotel. Udara di luar amat dingin dan terasa badan saya menggigil. Walau begitu para penjaja barang tampak masih berkeliaran. Dua orang mengikuti kami sampai ke pintu. Setelah yakin kami tidak butuh apa-apa lagi, mereka pergi. Kami langsung tidur karena waktu tinggal 2 jam lagi sebelum berangkat.

Lagi enak mimpi, tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu. Kulirik jam, ternyata sudah pukul 03.30. Kami diminta untuk berkemas karena pukul 04.00 tepat harus berangkat. Segera kami bangun lalu berbenah. Pakaian saya tambah menjadi tiga lapis, yakni kaos oblong, sweater, dan jacket. Sudah itu kami masuk mobil. Sebuah jeep Toyota Hardtop warna merah telah menunggu. Pengemudinya seorang Tengger. Saya duduk di jok depan  sebelah sopir sementara teman-teman mengambil tempat di jok belakang. Sebelum keluar dari perkampungan, kami harus melewati dua gardu penjaga. Pada setiap gardu sopir menghentikan mobil lalu melapor ke dalam.

Lewat perkampungan jalan mulai mendaki tajam. Lalu mulai menurun dan berliku-liku. Suasana sekeliling gelap, tidak terlihat apa-apa. Hanya bagian depan yang tersorot lampu mobil yang bisa dilihat. Tidak lama kemudian, kami tiba di jalan mendatar─tepatnya hamparan pasir. Tiba-tiba pemandangan di depan tampak serba putih tertutup kabut tebal. Jarak pandang ke depan tidak lebih dari 5 meter. Mobil terpaksa berjalan pelan karena kaca juga tertutup kabut. Sopir berusaha menyapu kaca dengan punggung telapak tangan namun tidak banyak membantu. Beruntung lintasan hanya sebuah dataran luas, jadi tidak perlu kuatir akan terperosok.

Setelah berjuang melewati kabut, jalan terasa mulai mendaki. Cuma anehnya semakin tinggi mendaki kabut juga berangsur hilang. Dalam keremangan pagi mulai terlihat  pepohonan, bukit maupun jurang. Kenderaan terus mendaki dan kadang menikung tajam.  Jalan amat sempit, hanya muat satu kenderaan. Kalau berpapasan, salah satu harus mengalah untuk menunggu. Disini kita hanya bisa yakin pada kehandalan dan pengalaman sopir saja. Begitu juga dengan kondisi mobil. Biarpun kelihatan tua, mobil ini masih kuat dan handal untuk mendaki. Hanya saja sebelum mendaki pada tanjakan curam, mobil harus berhenti dulu. Terlihat sopir mengambil ancang-ancang sambil ganti persnelling sebelum tancap gas.

Semakin lama pemandangan indah pegunungan mulai terlihat dalam keremangan pagi.  Tampak pula sorotan lampu kenderaan dari arah lain di kejauhan. Ternyata cahaya itu berasal dari barisan kenderaan yang mengambil jalur lain. Sesaat kemudian kami tiba di pemberhentian mobil. Tampak kenderaan lain sudah banyak yang tiba lebih dahulu. Beberapa mobil angkutan umum sekelas minibus juga terlihat  disana. Bahkan, Toyota Avanza juga ada. Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana bisa mobil sekelas ini melintasi jalan seperti yang kami lalui barusan. Ternyata mereka melintas dari jalur lain dimana tanjakan tidak begitu curam.

Turun dari mobil kami jalan kaki menuju pasenggarahan di puncak. Beberapa menara  telekomunikasi dan microwave terlihat berdiri disana. Anak tangga yang kami lalui cukup banyak untuk membuat napas ngosngosan. Tapi hitung-hitung tidak ada salahnya, anggap saja  olah raga pagi. Udara disana dingin seolah membekukan. Kucoba melepas sarung tangan, terasa dingin bukan main. Lalu cepat-cepat saya kenakan lagi. Terlihat cukup ramai orang berkunjung kesana. Tetapi sebagian besar adalah wisatawan manca daerah atau wisatawan lokal. Orang asing tidak begitu banyak. Hanya ada beberapa  turis orang Bule serta turis dengan wajah Asia seperti Jepang dan Korea.

Akhirnya kami tiba di puncak. Disana terdapat tempat duduk besi tanpa atap dibangun secara permanen. Letaknya di udara terbuka  sehingga cocok buat tempat istirahat sambil menikmati pemandangan. Disitu ada juga pendopo pakai atap. Kemungkinan dibuat untuk tempat berteduh apabila turun hujan. Tempat duduk ini sudah terisi penuh oleh para turis yang tiba lebih dulu. Pagar pembatas juga telah dipenuhi pengunjung yang ingin melihat matahari terbit. Kamera telah disiapkan, siap untuk mengabadikan momen langka saat mentari naik perlahan dari balik horizon. Tujuan utama sebagian besar pengunjung memang untuk mengamati momen ini. Terang saja kami tidak mau ketinggalan, ingin melihat apa sesungguhnya yang terjadi.

Kini posisi bagus untuk memandang dari dalam tidak ada lagi. Sia-sia kami mencari kesana kemari. Tempat-tempat strategis sudah dipadati pengunjung. Tak mau menyerah begitu saja kami segera keluar. Kini kami dapat tempat disamping pasenggrahan. Tidak ada tempat duduk, tetapi pandangan ke depan leluasa tak terhalang apapun. Dan apa yang terlihat disana membuat kami takjub. Sebuah panorama indah tampak terbentang di bawah sana. Sangat mempesona dan mengagumkan. Kami hanya bisa terdiam buat beberapa saat. Kini segalanya hening, tak ada suara berisik. Hanya bunyi serangga yang terdengar bersahutan. Memperdengarkan irama seolah melantunkan sebuah gita. Gita pujian bagi kebesaran Sang Pencipta. Ya, gita damai di puncak Bromo.

Gunung Batok dan Gunung Semeru

Dalam kegelapan terlihat jelas awan putih laksana salju menutupi hamparan luas bentuk persegi. Seolah terkurung oleh dinding terjal pada empat sisi—tak bisa beranjak kemana-mana, selain melayang keatas. Puncak Gunung Batok tampak kokoh menyembul dari balik awan. Warna kehitaman terlihat amat kontras dengan awan putih yang menyelubungi. Nun di balik Gunung Batok, tampak puncak Gunung Semeru memperlihatkan diri dari balik mega. Gunung tertinggi di bumi pertiwi ini terlihat menjulang ke atas seolah menggapai langit.

Matahari Terbit Dilihat dari Puncak Bromo

Tak lama warna merah kuning keemasan mulai muncul di balik horizon. Pertanda fajar akan menyingsing di ufuk Timur. Orang-orangpun mulai sibuk saling jepret sana-sini. Seorang wanita Bule datang menghampiri sambil membawa sebuah kamera. Lalu kusapa:

“Can I help you?”

“Excuse me. Would you please help me to take some pictures?” katanya sambil menyerahkan kamera.

“Sure. Of course I would,” jawab saya.

Agaknya wanita ini hanya datang seorang diri. Dia minta tolong untuk diambilkan foto. Saya tak keberatan lalu mulai membidik. Ternyata jari telunjuk saya kaku tak bisa menekan tombol akibat terbungkus sarung tangan tebal. Sarung tangan kanan kulepas, tapi huuuh…, dinginnya bukan kepalang. Tapi kupaksakan juga memoto hingga  dua kali, agar dia tidak kecewa. Dia tampaknya mengerti kondisi saya. Lalu mendekat meninggalkan posisi semula. Kuserahkan kameranya, lalu dia melihat hasilnya.

“How do you think?” tanya saya.

“Oh, nice. Thank you very much!” jawabnya. Kemudian dia berlalu.

Sarung tangan kupakai lagi lalu bergabung dengan teman-teman untuk foto. Gantian kami saling bidik dari berbagai posisi dan sudut pandang. Tak lupa saya ambil beberapa foto pemandangan alam sekitar. Suasana di puncak sudah mulai terang seiring naiknya matahari. Hawa mulai terasa sedikit hangat. Kini saya berani melepas sarung tangan agar lebih leluasa menekan tombol kamera. Tampak suasana di Pasenggerahan sudah mulai longgar. Kami cari tempat duduk kosong buat istirahat sejenak. Kini waktu kami gunakan  buat menikmati pemandangan sepuasnya karena kesempatan seperti ini amat langka.

Tempat Peristirahatan di Puncak Bromo

Satu persatu pengunjung kelihatan beranjak meninggalkan lokasi. Sebelum pergi, kami masih menyempatkan diri saling berfoto di lingkungan dalam  Pasenggarahan. Puas, lalu kami keluar. Kami mulai berjalan menuruni tangga. Ketika lewat, tampak beberapa penjual jagung bakar teriak-teriak menawarkan dagangannya. Saya ajak teman berhenti sebentar makan jagung. Tambahan perut mulai keroncongan karena belum masuk makanan sejak berangkat dini hari tadi. Cuma sebentar kami disini. Dari jauh sopir kelihatan sudah menunggu. Kini kami siap untuk berangkat menuju kawah Tengger. Suasana   sekitar terlihat sepi, ternyata banyak pengunjung sudah berangkat lebih dulu.

Bersambung ke Bagian 3

Diskusi

3 thoughts on “Gita Damai di Puncak Bromo – Bagian 2

  1. subhanallah,, suatu saat aku jg pgn ke puncak bromo..🙂

    Posted by Anisa NovitaSharyie Csls | 27 Desember 2011, 12:26
  2. Pondok Pertanian Tajung “tosari”
    Dalam rangka Memperkenalkan ” Tengger-Bromo” dr segala aspek, dengan ini kami buka pondok pertanian tanjung-tosari unt umum, dng hanya membayar ‘sukarela’ (tanpa tarif)

    Pondok pertaniaan tanjung terletak di dukuh: Tanjung rt.03. rw.03.(KM 99) desa: Baledono. kec: Tosari. kab: Pasuruan Ja-Tim. (Km. 99. dari Surabaya)
    Akses menuju pondok pertanian tanjung: dari ‘Pasuruan’ ambil arah malang smp di ‘Warungdowo’ (-+ 7km) belok kiri smp ‘Ranggeh’ belok kanan menuju ‘Pasrepan’ >>> ‘Puspo’ >>> melewati hutan2 mahoni dan pinus smp dukuh ‘Jonggo” >>> melewati hutan pinus smp ketemu rumah pertama lansung belok kiri turun kebawah, ” Pondok Pertanian Tanjung” terletak di sebelah kiri jalan dr pasuruan di Km.99 . Kurang lebih 7 km sebelum kec: Tosari.

    @.kamar los + 2 km mandi luar kapst: 8 s/d 16 orang, cukup memasukan dana “sukarela” ke kotak dana perawatan pondok pertanian. (tanpa tarif)
    @.kamar utama + km mandi dalam + perapian, kapst: 2 s/d 4 orang. Rp.150.000,- /malam

    *.fasilitas:.dapur,. kulkas,. ruang makan,. teras (4 x 12 m),. halaman api unggun,. tempat parkir unt 6 mobil,. kebun sayur.
    *.bisa masak sendiri dng menganti LPG dsb..Rp.30.000,-
    * dimasakkan prasmanan Rp.20.000,- 1x.makan. ( nego)

    # untuk informasi hub per sms/tlp: 081249244733 – 085608326673 ( Elie – Sulis ) 081553258296 (Dudick). 0343-571144 (pondok pertanian).
    # Informasi di Facebook dengan nama : Bromo Tanjung Pondok Pertanian

    Posted by bromotanjungpondokpertanian | 11 Februari 2013, 14:59
  3. Bromo Tanjung Pondok Tani
    Dalam rangka memperkenalkan “Tengger-Bromo” dari segala aspek, menginap di pondok tani tanjung-tosari, ^*DI HARI KERJA CUKUP MAMBAYAR DNG SUKARELA (TANPA TARIF)*^
    * rute: pasuruan-warungdowo-ranggeh-pasrepan-puspo-tanjung KM 99.(Tanjung Pondok Tani) -> (Baledono-Tosari)
    TARIF HARI LIBUR :
    @.kamar los + 2 km mandi luar, dapur, teras serba guna, kapst: 8 s/d 16 orang. Rp.250.000,-/malam.
    @.kamar utama + km mandi dalam + perapian, kapst: 4 s/d 6 orang. Rp.150.000,- /malam.
    @ fasilitas:.dapur,. kulkas,. ruang makan,. teras serba guna (4 x 12 m),. halaman api unggun,. tempat parkir unt 6 mobil,. kebun sayur.
    # hub per sms/tlp: *081249244733-085608326673 (Elie)*-* 081553258296-081385458993 (Dudick).
    # Informasi di Facebook dengan nama : Bromo Tanjung Pondok Pertanian

    Posted by bromotanjungpondoktani@gmail.com. | 4 Mei 2013, 06:47

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: