//
you're reading...
Antariksa, Sains dan Teknologi

Apa yang Terjadi Ketika Sebuah Bintang Raksasa Meledak?

Apa yang terjadi bila sebuah bintang yang benar-benar maha-raksasa seukuran seratus kali matahari meledak? Meskipun sebuah teori yang dibangun bertahun-tahun lalu menggambarkan seperti apa bentuk ledakan bintang raksasa itu, tak seorangpun  telah benar-benar mengamatinya hingga sekarang.

Ledakan sebuah bintang adalah bencana besar. Ledakan itu menghancurleburkan bintang menjadi serpihan dan melepaskan gelombang kejut menyerupai bola yang mengembang pada kecepatan lebih dari 35 juta kilometer per jam laksana sebuah tsunami antar-bintang.

Sebuah tim internasional dipimpin oleh para ilmuwan di Israel dan termasuk para peneliti dari Jerman, Amerika Serikat, Inggris dan China menemukan jejak supernova─sebuah bintang yang meledak─selama lebih dari satu setengah tahun, dan menemukan bahwa  penemuan itu benar-benar sesuai dengan ramalan tentang ledakan sebuah bintang dengan massa 150 kali massa matahari. Penemuan mereka, yang dapat mempengaruhi pemahaman kita mengenai segala sesuatu tentang batas-batas alami ukuran sebuah bintang hingga evolusi dari  jagad raya, muncul akhir-akhir ini di Nature.

“Segala sesuatunya mengenai keseimbangan,”  kata pimpinan tim Dr. Avishay Gal-Yam dari Particle Physics and Astrophysics Department. Selama masa hidup sebuah bintang, ada keseimbangan antara gravitasi yang menarik materinya ke arah dalam dan panas yang dihasikan oleh reaksi nuklir pada intinya, mendorongnya keluar.  Dalam sebuah supernova, kita akan merasa terbiasa dengan sebuah bintang seukuran 10-100 kali ukuran matahari, reaksi nuklir  diawali dengan peleburan hidrogen menjadi helium, sebagaimana terjadi pada matahari. Tetapi peleburan tetap berlangsung, menghasilkan unsur yang semakin lama semakin berat hingga inti berubah menjadi besi. Selama besi tidak bisa melebur dengan mudah, reaksipun membakar,  dan keseimbangan hilang. Gravitasi mengambil alih dan bintang itu runtuh ke dalam, melontarkan lapisan-lapisan paling luar akibat gelombang kejut yang terjadi terus menerus tanpa henti.

Keseimbangan dalam bintang super-raksasa adalah berbeda. Disini, photons (partikel ringan) amat panas dan aktip, mereka saling berhubungan untuk menghasilkan pasangan partikel: elektron dan lawan-lawannya, positron. Dalam proses itu, partikel dengan massanya tercipta dari photon dengan massa lebih sedikit dan ini akan menyerap energi bintang. Lagi, benda-benda akan terlempar keluar dari keseimbangan, tapi kali ini, ketika bintang runtuh, ia terperosok pada sebuah inti oksigen yang mudah menguap, ketimbang besi. Oksigen panas dan padat meledak laksana reaksi termonuklir berantai yang melenyapkan inti bintang, hanya sedikit yang tersisa kecuali abu bintang yang berpijar. Model dari supernova tiruan telah diperhitungkan puluhan tahun lalu,” kata Gal-Yam, “tetapi tak seorangpun yakin ledakan raksasa ini benar-benar terjadi di alam semesta.  Supernova baru yang kami temukan cocok sekali dengan model-model ini.”

Sebuah analisis atas data supernova baru mengarahkan para ilmuwan untuk menaksir ukuran bintang pada kisaran 200 kali massa matahari. Ini merupakan hal yang tidak lazim, sebagaimana para pengamat telah mencatat bahwa bintang-bintang pada bagian system alam semesta kita berukuran terbatas pada kisaran 150 matahari; beberapa orang bahkan heran jika ada  semacam desakan  secara fisik atas permukaan bintang. Temuan-temuan baru mendorong bahwa bintang-bintang maha-raksasa—meskipun jarang—benar-benar ada, dan bahkan bintang-bintang itu berukuran lebih besar, hingga 1000 kali ukuran matahari, mungkin telah ada sejak awal terbentuknya alam semesta. Ini buat kali pertama kami mampu menganalisis pengamatan atas bintang raksasa yang meledak seperti itu,” kata Dr. Paolo Mazzali dari Max Planck Institute for Astrophysics, Jerman yang memimpin studi teoritis atas objek ini. “Kami mampu mengukur jumlah unsur-unsur baru yang tercipta dari ledakan ini, nikel sintesis segar yang  mengandung radioaktip tinggi meliputi kira-kira 5 kali massa matahari kita.  Ledakan semacam itu boleh digambarkan sebagai pabrik penting bagi logam-logam berat dalam alam semesta.

Supernova raksasa ini ditemukan dalam sebuah galaksi berukuran kecil─hanya seperseratus ukuran yang kita punya, dan para ilmuwan berpikir bahwa galaksi kerdil semacam itu yang dapat menjadi pelabuhan alam  bagi bintang-bintang raksasa, entah bagaimana mereka mampu melampaui batasan 150 matahari.

“Penemuan dan analisis kita atas ledakan unik ini telah memberikan wawasan baru menjadi justru seberapa besar bisa mendapat dan bagaimana raksasa-raksasa bintang ini ambil bagian dalam pembentukan alam semesta ini,” kata Dr. Gal-Yam. “Kita berharap untuk mengerti bahkan lebih dari itu bilamana kita menemukan contoh-contoh tambahan dari penelitian-penelitian baru yang mana baru-baru ini telah mulai dikelola, meliputi luas area alam semesta yang belum tereksplorasi sebelumnya.”

Penelitian Dr. Avishai Gal-Yam didukung oleh the Nella and Leon Benoziyo Center for Astrophysics; the Peter and Patricia Gruber Awards; William Z. & Eda Bess Novick New Scientist Fund; the Legacy Heritage Fund Program of the Israel Science Foundation; dan Miel de Botton Aynsley, United Kingdom.

.

Sumber: http://www.sciencedaily.com/releases/2009/12/091203132155.htm

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: